BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masa remaja adalah kelanjutan dari masa pubertas dimana ciri-ciri yang menonjol dari masa ini adalah masa masa peralihan yang penuh dengan gejolak dan ruang ketidak pastian serta ketidakjelasan. Maksudnya remaja bisa dikatakan masa yang yang serba nanggung juga masa yang penuh masalah atau masa dimana juga disebut juga sebagai gejolak remaja.
Disinilah, remaja harus berani melampaui batas hal-hal yang biasanya sudah dianggap sebagai doktrin disinilah bukan sekedar inklusif, namun sekaligus harus dapat memberi penutan, yang mampu melindungi setiap individu dan berbagai etnik tanpa dan bukan berarti melanggar norma-norma dalam masyarakat serta sumber hukum bangsa ini.
Seringkali para remaja mengadakan aksi demo, terutama pada kalangan mahasiswa yang ada di bangsa ini. Dan banyak remaja yang mengumbar hawa nafsunya serta sering melanggar etika dalam hal berpakaian
Kita sebagai remaja harapan bangsa harus jujur mengakui bahwa perbaikan atau penyembuhan krisis multi dimensional tidak sedikit yang kita rasakan. Namun juga harus jujur juga mengakui bahwa belum seluruh jenis krisis telah lenyap.
B. Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini perlu diketahui penulis memfokuskan diri untuk membahas :
a. Apa pengertian remaja
b. Gejolak remaja dari segi hawa nafsu atau seksual
c. Gejolak remaja dari segi berpakaian yang islami
d. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi gejolak remaja
C. Tujuan
· Memperbaiki sikap remaja dalam masa pubertas atau disebut gejolak remaja yang berlebihan dan melanggar norma-norma.
· Mengetahui cara mengatasi gejolak remaja
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992).
Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.
B. Kesulitan Dan Bahaya Yang Dialami Oleh Remaja
Beberapa kesulitan atau bahaya yang mungkin dialami kaum remaja, antara lain :
1. Variasi kondisi kejiwaan, suatu saat mungkin ia terlihat pendiam, cemberut, dan mengasingkan diri tetapi pada saat yang lain ia terlihat sebaliknya-periang berseri-seri dan yakin. Perilaku yang sukar ditebak dan berubah-ubah ini bukanlah abnormal. Itu hanya perlu diprihatinkan bila ia terjerumus dalam kesulitan, kesulitan di sekolah atau kesulitan dengan teman-temannya.
2. Rasa ingin tahu seksual dan coba-coba, hal ini normal dan sehat. Rasa ingin tahu seksual dan bangkitnya birahi adalah normal dan sehat. Ingat, bahwa perilaku tertarik pada seks sendiri juga merupakan ciri yang normal pada perkembangan masa remaja. Rasa ingin tahu seksual dan birahi jelas menimbulkan bentuk-bentuk perilaku seksual.
3. Membolos
4. Perilaku anti sosial, seperti suka mengganggu, berbohong, kejam dan agresif. Sebabnya mungkin bermacam-macam dan banyak tergantung pada budayanya. Akan tetapi, penyebab yang mendasar adalah pengaruh buruk teman, dan kedisiplinan yang salah dari orang tua terutama bila terlalu keras atau terlalu lunak-dan sering tidak ada sama sekali
5. Penyalahgunaan obat bius
6. Psikosis, bentuk psikosis yang paling dikenal orang adalah skizofrenia.
C. Gejolak Remaja dari Segi Hawa Nafsu
Masa remaja diawali oleh datangnya pubertas, yaitu proses bertahap yang mengubah kondisi fisik dan psikologis seorang anak menjadi seorang dewasa. Pada saat ini terjadi peningkatan dorongan seks sebagai akibat perubahan hormonal. Selain itu, karakteristik seks primer dan sekunder menjadi matang sehingga memampukan seseorang untuk bereproduksi (Steinberg, 2002). Mengenai dorongan seksual yang meningkat ini menjadikan seseorang remaja mulai belajar untuk mengetahui dan mencari informasi terkait seksualitas itu sendiri. Kemudian penyaluran hasrat yang dimilikinya juga menyertai proses belajar ini.
Disinilah poin penting yang harus diperhatikan, bahwa proses ingin tahu seputar seksualitas harus benar-benar tepat dan benar. Karena seringkali keingintahuan tersalurkan kepada hal – hal yang merugikan diri sendiri. Seperti akses pornografi melalui media. Dari penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Peduli Remaja Kriya Mandiri, media online menjadi tempat terbanyak yang dijadikan sarana untuk mengetahui informasi mengenai seksualitas. Dari jumlah responden 352 remaja yang masih berstatus pelajar di 10 sekolah tingkat atas di Surakarta, sebesar 56% menyatakan media online menjadi sarana untuk mengetahui informasi tentang seks, kemudian terbanyak kedua adalah teman sebaya sebesar 15% diikuti orang tua (12%), guru (9%), serta organisasi remaja dan lainnya masing-masing sebesar 4%.
Kemudian dari jumlah responden yang mengakses materi pornografi sebanyak 63% pernah mengakses materi pornografi baik berupa film, gambar maupun cerita porno. Meskipun penelitian ini tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh populasi remaja berusia sekolah yang ada di Kota Surakarta, akan tetapi cukup memberikan gambaran bahwa akses pornografi di kalangan remaja khususnya pelajar tingkat atas di Kota Surakarta dapat dikatakan cukup mengkhawatirkan terhadap perkembangan seksualitas dan psikologisnya.
Apabila dianalisis lebih jauh, akses pornografi yang kian marak merupakan dampak pendidikan seks yang salah dan kurang tepat dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab akan hal itu, seperti orang tua, guru serta pihak-pihak terkait lainnya. Kegagalan pendidikan seks ini umumnya adalah karena adanya anggapan seks merupakan sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan. Oleh karenanya, seorang remaja terkadang malu atau enggan untuk berkonsultasi dengan orang-orang dewasa yang lebih paham dengan masalah seksualitas. Sehingga mereka lebih nyaman menggunakan media online untuk mengakses informasi terkait dengan seksualitas. Masalah muncul karena keingintahuan seputar seksual ini tidak hanya berhenti pada informasi penting saja, akan tetapi kebablasan menjurus kepada hal – hal yang yang seharusnya tidak boleh dikonsumsi (materi pornografi) yang mempunyai efek destruktif yang mempengaruhi perilaku seksualnya.
Fenomena massifnya media – utamanya internet– di dalam proses degradasi moral remaja ini ditunjukan fakta lain, dalam penelitian Komunitas Jogja (2007) ditemukan 900 film porno buatan lokal dengan pemeran usia remaja Indonesia beredar di internet. Inilah bentuk shock culture yang terjadi dalam masyarakat kita. Dikatakan demikian karena budaya timur Indonesia yang sopan dan anggun mulai tergerus, mengalami pergeseran nilai menjadi budaya yang tidak lagi mengindahkan moralitas dan nilai-nilai agama. Jadilah budaya permisivisme dan prilaku yang penuh dengan kebebasan meracuni kehidupan remaja mulai cara berpakaian yang kurang sopan cenderung menampakkan aurat tubuh lantaran dianggap seksi, berkata jorok, seks bebas hingga perilaku seks menyimpang semakin marak terjadi.
Kemudian perilaku yang penuh dengan kebebasan seringkali mengarah pada kenakalan yang sangat mencemaskan. Sebut saja kenakalan yang menjurus pada perilaku seksual yang kurang bertanggung jawab. Sungguh mengejutkan saat menonton sebuah acara di televisi yang mengulas tentang adanya ‘Pecun’ atau perek cuma-cuma dikalangan remaja. Dengan mudahnya para remaja putri mengobral tubuh mereke pada laki-laki yang mereka inginkan tanpa dibayar sepeserpun.
Menurut mereka, mereka bukan pelacur. Karena apa yang mereka lakukan adalah karena kesenangan semata, bukan tuntutan keuangan. Istilah ‘one night stand’ atau hubungan satu malam saja pun sudah biasa terdengar. Bertemu di klab-klab malam atau bahkan di pusat perbelanjaan. Berlanjut dengan acara jalan dan kencanpun berakhir di sebuah kamar hotel.
Seringkali yang menjadi sasaran para remaja putri ini adalah pria-pria dari kalangan anak pejabat, artis terkenal atau remaja pria lain yang tergolong populer. Gaya hidup dengan pergaulan seks yang tidak bertanggung jawab juga mereka lakukan pada pacar sendiri. Dan dianggap sebagai ungkapan rasa cinta bila mereka akhirnya bisa tidur bersama.
Bila melirik sebuah tayangan film remaja, cukup mencengakan perlaku mereka di masyarakat. Film yang mengulas cukup gamblang perilaku kenakalan remaja adalah fim Virgin. Dikisahkan bagaimana tidak berharganya sebuah nilai keperawanan masa kini. Begitu mudah si remaja putri menjual kegadisannya hanya di sebuah toilet mall dengan harga sepuluh juta rupiah!. Tragisnya, uang hasil menjual kegadisan itu, hanya digunakan untuk membeli barang-barang mewah guna menunjang penampilan biar keren, biar gaul.
Karena tuntutan gaya hidup, maka kebiasaan menjual diri pun dilakukan terus menerus. Maka para pelacur beliapun banyak berkeliaran di mall-mall dengan seragam sekolah mereka. Katanya harga bisa tinggi bila masih sekolah. Sasarannya adalah om-om senang berkantong tebal. Sudah bukan rahasia lagi bila saat ini perilaku seperti ini banyak terjadi di kota-kota besar. Bukan karena tuntutan ekonomi, tapi karena tuntutan gaya hidup yang berlebihan
Sangat menyedihkan saat perilaku ini mengakibatkan tingginya angka aborsi dikalangan remaja. Karena perilaku yang tidak bertanggung jawab, maka seringkali kehamilan terjadi diluar kehendak mereka. Maklum, akibat kurangnya pengetahuan dan sikap sembrono, maka mereka cenderung tidak memakai pengaman. Sangat berbahaya mengingat hal ini menyangkut jiwa manusia dan kesehatan reproduksinya dimasa mendatang. Ketidak sadaran akan hal ini sungguh sangat mengkuatirkan.
Hal lain yang patut dikuatirkan adalah penggunaan obat terlarang yang marak beredar di pesta-pesta anak muda. Sudah biasa melihat teman-teman mereka mengkonsumsi sabu-sabu, mariyuana dan masih banyak lagi di depan mata mereka sendiri. Bahkan tidak gaul bila mereka tidak pernah mencoba sedikit rasa dari obat-obat ajaib itu.
D. Gejolak Remaja Dari Segi Pakaian
Gaya berpakaian kaum perempuan Islam, terutama para remaja semakin hari semakin mengkhawatirkan. Mayoritas mereka tak lagi mengindahkan cara berpakaian yang benar menurut syariat Islam.
“Yang lagi trendi saat ini bagi remaja Islam adalah memakai celana dan baju ketat plus jilbab seadanya,” padahal berpakaian dalam Islam tidak sekedar menutupi, tetapi juga melindungi aurat. Jika perempuan memakai celana dan baju ketat, sama saja mereka hanya menutupi tetapi tidak melindungi aurat.
Sebab, dengan celana dan baju ketat, tentu saja lekuk-lekuk tubuh pemakainya akan terlihat jelas. “Islam memang tidak melarang kita membuat berbagai gaya dalam berpakaian. Hanya saja, menutupi dan melindungi aurat harus lebih utama ketimbang gaya. Selama auratnya tertutup dan ter lindungi, gaya apapun silah kan.
Ironisnya lagi, generasi muda yang berpakaian seperti itu bukan hanya masyarakat biasa, tetapi juga anak-anak dari para ustadz, anak tokoh masyarakat, anak tokoh adat dan anak para pejabat. Bahkan tidak hanya generasi muda, sejumlah PNS perempuan dan istri pejabat pun ada yang berpakaian dengan gaya yang sama.
Maraknya generasi muda Islam berpakaian yang tidak sesuai dengan aturan Islam, ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, lemahnya pemahaman mereka tentang cara berpakaian yang benar menurut Islam dan kedua lantaran kuatnya pengaruh gaya modernisasi dan ketiga Karena pengaruh pubertas atau gejolak remaja.
Maraknya generasi muda Islam berpakaian yang tidak sesuai dengan aturan Islam, ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, lemahnya pemahaman mereka tentang cara berpakaian yang benar menurut Islam dan kedua lantaran kuatnya pengaruh gaya modernisasi dan ketiga Karena pengaruh pubertas atau gejolak remaja.
Agar masalah ini tidak semakin berat dan generasi kita tidak semakin terjerumus dalam cara berpakaian yang salah, semua pihak sudah saatnya punya perhatian sungguh-sungguh. Kita harus memberikan pemahaman yang benar bagaimana cara berpakaian yang sesuai menurut ajaran Islam.
Pemko bisa memasang baliho yang berisi gambar cara berpakaian muslimah yang benar.
Pemko bisa memasang baliho yang berisi gambar cara berpakaian muslimah yang benar.
Persoalan yang membutuhkan perhatian umat Islam bukan hanya cara berpakaian, tetapi juga cara bergaul, cara berbicara dan etika lainnya. Dengan pengaruh moderniasasi serta masa pubertas atau gejolak remaja, banyak generasi muda yang bergaul atau berbicaranya yang jauh dengan nilai-nilai Islam. “Kalau tidak dicermati dengan serius dari sekarang, bukan tidak mungkin masalah-masalah yang banyak menimpa generasi muda kota besar, seperti pergaulan bebas akan marak pula terjadi. Sebelum semuanya terlambat, mari kita bentengi generasi muda dengan pemahaman agama yang benar dan iman yang teguh,
E. Upaya, Sikap dan Tugas Orang Tua Dalam Mengatasi Gejolak Remaja
Upaya mendidik anak dan remaja pada masa pubertas atau gejolak remaja antara lain:
· Menanamkan kerinduan pada usaha yang mulia
· Menyalurkan bakat fitri anak
· Menjalin hubungan yang baik antara rumah, masjid, dan sekolah
· Memperkuat hubungan orang tua, pendidik, dan anak
· Menanamkan kecintaan anak pada belajar
· Menyediakan sarana pembudayaan yang bermanfaat
· Menanamkan tanggung jawab keislaman
· Memperdalam semangat jihad
Sikap yang harus diambil orang tua dalam mengatasi gejolak remaja pada anak dan remaja :
1. Mengetahui secara optimal perubahan-perubahan yang terjadi pada anak-anak mereka yang sedang remaja de¬ngan melakukan pengamatan yang jeli.
2. Mengarahkan mereka (anak-anak) untuk selalu pergi ke masjid sejak kecil sehingga memiliki disiplin naluriah dan andil yang potensial dalam lingkungan rabbaniah. Jika dia seorang pemuda, anjurkan untuk membiasakan shalat berjamaah dan membaca A1 Qur’an.
3. Membuka dialog dan menyadarkan mereka akan status sosial mereka.
4. Menanamkan rasa percaya diri pada diri mereka dan siap mendengarkan pendapat-pendapat mereka.
5. Menyarankan agar menjalin persahabatan dengan teman¬teman yang baik. Sikap tersebut dapat menjadi perisai positif dan menjauhkan mereka dari perbuatan-perbuatan nista.
6. Mengembangkan potensi mereka di semua bidang yang bermanfaat.
7. Menganjurkan kepada mereka untuk berpuasa sunah karena hal itu dapat menjadi perisai dari kebobrokan moral.
Tugas-tugas yang dilakukan oleh orang tua yang cukup baik, secara garis besar adalah:
1. memenuhi kebutuhan fisik yang paling pokok; sandang, pangan dan kesehatan
2. memberikan ikatan dan hubungan emosional, hubungan yang erat ini merupakan bagian penting dari perkembangan fisik dan emosional yang sehat dari seorang anak.
3. Memberikan sutu landasan yang kokoh, ini berarti memberikan suasana rumah dan kehidupan keluarga yang stabil.
4. Membimbing dan mengendalikan perilaku.
5. Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal, hal ini diperlukan untuk membantu anak anda matang dan akhirnya mampu menjadi seorang dewasa yang mandiri. Sebagian besar orang tua tanpa sadar telah memberikan pengalaman-pengalaman itu secara alami.
6. Mengajarkan cara berkomunikasi, orang tua yang baik mengajarkan anak untuk mampu menuangkan pikiran kedalam kata-kata dan memberi nama pada setiap gagasan, mengutarakan gagasan-gagasan yang rumit dan berbicara tentang hal-hal yang terkadang sulit untuk dibicarakan seperti ketakutan dan amarah.
7. Membantu anak anda menjadi bagian dari keluarga.
8. Memberi teladan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik.
Kebanyakan para remaja banyak yang terlibat pergaulan bebas karena gejolak remaja yang tidak terimbangi pendidikan dan pengawasan dari orang tua, dimana banyak remaja yang mengumbar hawa nafsu dengan lawan jenisnya. Kemudian juga remaja sekarang sudah tak lagi mengenal kesopanan dari cara berpakaian yang dipengaruhi oleh modernisasi.
Upaya mendidik anak dan remaja pada masa pubertas atau gejolak remaja antara lain:
· Menanamkan kerinduan pada usaha yang mulia
· Menyalurkan bakat fitri anak
· Menjalin hubungan yang baik antara rumah, masjid, dan sekolah
· Memperkuat hubungan orang tua, pendidik, dan anak
B. Saran
· Jika terdapat kesalahan dalam hal penulisan kata penulis mohon kritik dan saran yang bersifat membangun bagi penulisan selanjutnya.
· Semoga makalah ini dapat berguna bagi pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
http://lutfifauzan.wordpress.com/2009/09/19/membina-remaja-muslim/